Samarinda, infosatu.co — Rumah warga di sekitar Sungai Mahakam, Jalan Cipto Mangunkusomo, Kelurahan Sangkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami kerusakan setelah tersenggol dua tongkang bermuatan batu bara.

Kejadian tersebut berlangsung pada Minggu, 4 Januari 2026, sekitar dini hari, dan turut mengenai pilar Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu).
Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Satpol PP Kalimantan Timur, Edwin Noviansyah, menyebut pengecekan di lokasi kejadian atas intruksi dari gubernur Kalimantan Timur dengan melibatkan sejumlah Dinas terkait.
Bersarkan hasil pengecekan, Edwin menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan tabrakan keras.
“Bukan menabrak, tapi hanya menyenggol atau bersandar,” ujarnya saat di temui di lokasi siang hari, Minggu 4 Januari 2025.
Edwin menjelaskan, saat kejadian, kurang lebih pukul 01.17 dini hari, kapal tengah berputar dan tidak dalam kondisi melakukan pengolongan.
Namun, tali ponton terlepas sehingga ponton tidak bisa dikendalikan dan menghantam 1 rumah warga.
Akibat kejadian itu, sejumlah peralatan rumah tangga warga dilaporkan rusak dan amblas, mulai dari mesin cuci, kulkas, hingga peralatan dapur.
Selain itu, perangkat CCTV dan panel surya juga terdampak, serta satu petak tambak milik warga ikut mengalami kerusakan.
Terkait langkah lanjutan, Edwin menyampaikan investigasi teknis tetap akan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta bersama instansi terkait.
Sementara itu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kaltim akan memasang spanduk larangan melintas bagi kapal dengan panjang di atas 300 feet di bawah jembatan selama proses investigasi berlangsung.
Menanggapi potensi kerugian warga yang disebut bisa mencapai ratusan juta rupiah, Edwin mengatakan pihaknya memahami kondisi tersebut.
Namun ia juga mengingatkan tingginya risiko tinggal di pinggir sungai.
“Ini jadi pengingat bersama, bahwa sebenarnya kita yang hidup di pinggiran sungai, itu sangat beresiko tinggi. Sewaktu-waktu bencana bisa saja menghampiri. Apalagi ini termasuk jalur lalu lintas kapal yang besar-besar,” terangnya.
Lebih lanjut, Edwin menyebutkan, rencana rapat bersama akan digelar untuk membahas tindak lanjut, termasuk kemungkinan ganti rugi.
Rapat tersebut akan melibatkan pihak kapal, dinas terkait, serta warga terdampak dan dijadwalkan pada Senin mendatang, menyesuaikan undangan dari dinas teknis.
Edwin juga menyebut peristiwa ini sebagai kejadian kedua dalam waktu berdekatan di Jembatan Mahulu.
Apabila hasil investigasi menyatakan jembatan tidak layak dilalui, maka penutupan jalur bawah maupun atas akan dilakukan sementara.
Sebagai alternatif, arus lalu lintas kendaraan akan diarahkan melalui Jembatan Mahakam I, dengan pengaturan teknis bersama Dinas Perhubungan (Dishub) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Hal ini dilakukan agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan meski dengan pembatasan beban kendaraan.
