Samarinda, infosatu.co – Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya siklus berita, tidak semua wartawan memilih melangkah tergesa.
Dhita Apriliani, wartawan Infosatu dari Media Sukri Indonesia (MSI) Group, justru memilih berhenti sejenak mengamati, memahami, dan menata kompas sebelum benar-benar berlayar jauh di dunia jurnalistik.
Bagi Dhita, jurnalistik bukan sekadar profesi, melainkan sebuah perjalanan intelektual dan moral.
Ia menyebut posisinya saat ini berada pada tahap yang ia sebut sebagai observasi prosedural. Sebuah fase awal yang mungkin tidak terlihat berani, namun penting.
“Saya sedang mempelajari kode etik, aturan main, dan bagaimana sebuah fakta bisa berubah menjadi berita tanpa cacat logika maupun hukum,” ujarnya.
Ia tidak ingin menjadi jurnalis yang sekadar mengikuti arus pemberitaan.
Di tahap ini, Dhita sedang membangun kerangka berpikir yang sistematis untuk memastikan setiap kata yang kelak ia tulis memiliki dasar hukum yang kuat dan akurasi yang terjaga.
Baginya, sebelum masuk kepada pemberitaan konflik dan isu sensitif, kompas moral dan intelektual harus benar-benar selaras.
Namun, kehati-hatian itu bukan tanpa konsekuensi. Jika tulisannya bisa berbicara, Dhita membayangkan kritik yang mungkin ia terima datang dari tulisannya sendiri.
“Berita saya mungkin akan bilang, ‘Dhita, tulisanmu terlalu seperti berkas perkara atau laporan polisi,” ungkapnya.
Ia menyadari kecenderungannya yang legalistik dan kaku. Ketakutan akan kesalahan faktual atau pencemaran nama baik membuatnya kerap mengorbankan sisi emosional sebuah peristiwa.
Padahal, ia paham, berita bukan hanya soal keadilan di atas kertas, tetapi juga tentang rasa yang bisa dipahami masyarakat awam.
“Ke depan, saya ingin belajar menggunakan bahasa yang lebih mengalir, supaya pesan keadilan itu tidak hanya benar secara hukum, tapi juga sampai ke hati pembaca,” tuturnya.
Jika harus memilih satu jenis berita untuk seumur hidup, Dhita tanpa ragu menjatuhkan pilihan pada investigasi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan advokasi hukum. Pilihan itu bukan tanpa alasan.
“Ketidakadilan itu anomali dalam sistem. Dan anomali harus diperbaiki,” tegasnya.
Ia merasa memiliki disiplin untuk membedah dokumen hukum yang rumit, melacak celah regulasi yang disalahgunakan, serta mengumpulkan bukti autentik di lapangan.
Lebih dari itu, ia tertarik sebagai jurnalis relawan kegiatan sosial. Dhita ingin menggunakan jurnalistik sebagai alat advokasi—memberi suara bagi mereka yang hak-haknya dirampas.
Sekaligus memastikan hukum benar-benar melindungi yang lemah, bukan hanya menguntungkan yang kuat.
Harapan Dhita terhadap perjalanan jurnalistiknya pun tidak sederhana. Di tengah era ketika opini sering menyamar sebagai fakta, ia ingin setiap laporannya memiliki standar kredibilitas yang kokoh.
“Saya ingin tulisan saya memberi pencerahan hukum kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia membayangkan suatu hari nanti, karya jurnalistiknya bukan hanya dibaca lalu dilupakan, tetapi menjadi dokumen rujukan yang bisa digunakan dalam upaya penegakan hukum dan perbaikan sistem sosial.
Di awal perjalanan ini, sebagai wartawan baru di MSI Group, Dhita belum mengklaim diri sebagai jurnalis besar. Ia masih belajar, masih mengamati.
Namun satu hal sudah jelas: ia memilih berjalan pelan, dengan prinsip sebagai penunjuk arah. Dan dalam dunia jurnalistik yang sering bergerak cepat, pilihan untuk berjalan hati-hati justru menjadi sikap yang langka.
