Aceh Tamiang, infosatu.co — Lebih dari tiga pekan pascabanjir, kebutuhan warga Aceh Tamiang masih tergolong tinggi.
Merespons kondisi tersebut, Sekolah Kebangsaan Pemuda Indonesia (SKPI) bersama Jakarta Connection dan Titik Kumpul Literasi kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan tahap kedua melalui Aksi Kolaborasi bersama para donatur.

Penyaluran bantuan lanjutan ini menjadi bentuk keberlanjutan kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana. Bantuan yang disalurkan mencakup paket makanan, kebutuhan pokok, popok bayi, pembalut, serta obat-obatan, yang seluruhnya dihimpun dari dukungan dan kepercayaan para donatur.
Founder SKPI, Faisal Andri Mahrawa, menegaskan bahwa Aksi Kolaborasi tidak berhenti pada penyaluran tahap awal.
Menurutnya, kehadiran komunitas dan pemuda di tengah masyarakat terdampak menjadi bagian penting dari proses pemulihan pascabencana.
“Kami melihat kebutuhan warga Aceh Tamiang masih sangat tinggi. Karena itu, aksi lanjutan ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab bersama dan semangat gotong royong antara komunitas, pemuda, dan para donatur,” kata Faisal.
Kondisi di lapangan juga disoroti oleh Founder Jakarta Connection, Muhammad Iqbal. Ia menyampaikan bahwa hingga lebih dari 20 hari setelah banjir, banyak rumah warga masih dipenuhi lumpur, sehingga menghambat aktivitas masyarakat.
“Banyak warga yang belum bisa kembali ke rumah dan masih bertahan di pengungsian. Situasi ini menunjukkan bahwa Aceh Tamiang masih membutuhkan perhatian dan bantuan serius,” ujarnya.
Selain menyalurkan bantuan logistik, SKPI, Jakarta Connection, dan Titik Kumpul Literasi melalui Aksi Kolaborasi juga mendorong pemerintah pusat agar segera menurunkan alat berat untuk membantu pembersihan lumpur di kawasan permukiman warga.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat pemulihan lingkungan, mengurangi potensi gangguan kesehatan, serta membantu warga kembali beraktivitas secara normal.
Aksi Kolaborasi menegaskan bahwa penanganan bencana tidak bisa diserahkan pada satu pihak semata.
Pemulihan Aceh Tamiang membutuhkan keterlibatan kolektif seluruh elemen, mulai dari warga, komunitas, pelaku usaha, hingga pemerintah, agar proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat dan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi secara berkesinambungan.
