Samarinda, infosatu.co — Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) Rinda Wahyuni, menegaskan komitmennya untuk memperkuat gerakan pendampingan pasien Tuberkulosis (TB).
Selain itu, juga dilakukan edukasi masyarakat sebagai langkah utama dalam menurunkan kasus dan menghapus stigma tentang Tuberkulosis.

Hal itu disampaikan Rinda Wahyuni saat ditemui di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Samarinda, seusai kegiatan pengukuhan kepengurusan Forum Kota Sehat dan PPTI, Rabu 10 Desember 2025.
Rinda menjelaskan bahwa PPTI bergerak sejalan dengan arahan Wali Kota Samarinda, khususnya terkait penanganan masalah banjir dan sampah melalui kegiatan susur sungai yang selama ini dilakukan bersama pemerintah kota setiap dua minggu sekali.
Rinda menegaskan bahwa gerakan tersebut akan kembali digiatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan lingkungan.
Sementara itu, untuk program penanganan TB, PPTI dalam dua minggu terakhir telah mendatangi langsung pasien-pasien Tuberkulosis untuk memberikan bantuan pengobatan, pendampingan, serta paket Sembako.
Kegiatan tersebut, kata Rinda, akan terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Pendampingan itu perlu dan harus dilakukan setiap saat. Teman-teman di lapangan bergerak minimal satu kali dalam sebulan. Di 10 kecamatan, kami memiliki pendamping yang bertugas memantau pasien,” ujarnya.
Rinda menekankan bahwa salah satu fokus utama PPTI adalah mengubah stigma yang melekat di masyarakat terhadap TB.
Menurutnya, banyak warga masih menganggap TB sebagai penyakit kutukan, penyakit turunan, atau penyakit yang memalukan.
“Stigma itu yang harus kita rubah. Karena itu kita turun langsung, melakukan skrining, dan memberikan edukasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, sebulan lalu, PPTI telah melakukan skrining di 10 kecamatan, dan menemukan beberapa warga yang terindikasi TB.
PPTI kemudian melakukan skrining lanjutan pada anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Edukasi diberikan untuk menegaskan bahwa TB bukan penyakit yang memalukan atau keturunan, dan sangat bisa disembuhkan jika pengobatan dijalankan dengan disiplin.
“Kalau rutin berobat dua bulan, insya Allah sudah bisa kita kendalikan. Jika rutin sampai enam bulan, akan sembuh total. Yang ingin kami ubah adalah prediksi masyarakat, jangan takut untuk berobat, jangan malu. Jika terdeteksi TB, segera berobat,” tegas Rinda.
Rinda juga memastikan bahwa seluruh Puskesmas di Samarinda telah siap menangani pengobatan TB.
“Semua lengkap. Pengobatan sudah tersedia di 26 puskesmas kita, rumah sakit Moies juga sudah lengkap. Dalam skrining, kami dibantu alat-alat dari puskesmas dan fasilitas kesehatan masyarakat,” pungkasnya.
