Samarinda, infosatu.co – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menegaskan komitmennya mempercepat pemerataan akses pendidikan menengah dengan menargetkan pembangunan 10 sekolah baru hingga tahun 2027.
Langkah ini difokuskan pada wilayah-wilayah yang masih minim layanan pendidikan, termasuk kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan daerah perbatasan.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin, mengatakan bahwa pembangunan sekolah baru merupakan agenda prioritas dalam rencana besar Pemprov membenahi akses pendidikan secara merata di seluruh kabupaten/kota.
“Ya, ada 10 sekolah yang kita targetkan sampai 2027 selesai,” ujar Armin di Samarinda, Kamis, 27 November 2025.
10 sekolah tersebut tersebar di tujuh daerah, masing-masing Paser 2 sekolah, Penajam Paser Utara 1 sekolah, Balikpapan 2 sekolah, Berau 2 sekolah, Kutai Timur 1 sekolah dan Kutai Kartanegara 2 sekolah.
Armin menegaskan pembangunan ini diarahkan ke daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau layanan pendidikan menengah.
“Tujuan pembangunan ini jelas, membuka akses pendidikan bagi anak-anak kita, terutama di daerah yang jauh. APK kita juga terbaik se-Indonesia, yaitu 98,75 persen berdasarkan data BPS,” jelasnya.
Selain menambah sekolah baru, Disdikbud juga berfokus pada revitalisasi sekolah dengan kondisi fisik yang tidak layak.
“Tidak boleh ada lagi sekolah jelek. Kalau ada, itu yang harus kita benahi,” tegas Armin.
Ia menyebutkan bahwa beberapa daerah terpencil seperti Siluq dan Bentian telah dipetakan sebagai lokasi pembangunan konsep boarding school, atau sekolah berasrama.
“Tujuannya supaya anak-anak dari wilayah 3T dan remote bisa sekolah. Ke depan, kita perkuat boarding,” ujarnya.
Pembangunan sekolah juga dapat dilakukan melalui pendirian unit sekolah baru di daerah padat penduduk atau wilayah perbatasan provinsi, terutama yang jaraknya jauh dari sekolah induk.
“Misalnya di Siluq atau Bentian yang berbatasan dengan Kalteng, kita bisa bangun di situ agar anak-anak tidak jauh ke sekolah,” jelasnya.
Penambahan sekolah tentu akan menuntut kebutuhan guru. Armin menegaskan bahwa pemenuhan tenaga pendidik akan mengutamakan tenaga lokal dan memanfaatkan skema BOSDA (Bantuan Operasional Sekolah Daerah).
“Pasti membutuhkan tambahan guru. Kita bisa memanfaatkan BOSDA untuk guru pengganti, karena tidak boleh angkat guru honor baru,” katanya.
Ia menjelaskan satu guru dapat mengampu hingga tiga mata pelajaran sesuai klaster.
Armin merinci bahwa dua sekolah di Paser kini sedang dalam tahap pembangunan dan ditargetkan selesai tahun depan. Sementara, SMAN 47 Balikpapan sudah dapat digunakan meskipun pembangunan belum tuntas.
Setiap sekolah baru nantinya akan memulai operasional dengan dua Rombongan Belajar (Rombel) dan secara bertahap ditingkatkan menjadi enam rombel.
Ia juga membeberkan standar minimal pembangunan SMA baru, 6 ruang kelas baru, ruang guru dan kantor, laboratorium, perpustakaan serta lahan minimal 2 hektare.
Armin menegaskan pembangunan sekolah baru selaras dengan prioritas Pemprov Kaltim dalam meningkatkan kualitas pendidikan, sekaligus mendukung keberhasilan Program Gratispol Pendidikan.
“Kita ingin generasi emas kita betul-betul mendapatkan akses pendidikan yang layak. Ini bagian dari mendukung program Gratispol dari Pak Gubernur,” pungkasnya. (Adv Diskominfo Kaltim)
Editor: Nur Alim
