Samarinda, infosatu.co – Enam tahun lalu, Muhammad Zikri tidak pernah membayangkan dirinya suatu hari akan menginjakkan kaki di Tanah Suci, Arab Saudi.
Pria kelahiran 6 November 1998 itu datang ke Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai perantau dari Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 2019.
Hidup sederhana di sekitar Jalan Juanda, ia mengabdikan diri sebagai marbut Masjid Al-Husna tempat yang kemudian menjadi rumah keduanya.
Setiap hari, Zikri menjalankan rutinitas yang mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, menyapu, mengepel, merapikan sajadah, mengatur peralatan salat, serta menjaga ketertiban masjid.
Namun bagi Zikri, itu semua bukan sekadar pekerjaan. Ada nilai ibadah yang membuatnya tetap bertahan, sekaligus doa yang diam-diam selalu ia panjatkan suatu hari bisa mengunjungi Tanah Suci.
Doa itu terjawab pada Oktober 2025
Zikri mengaku tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan terpilih sebagai peserta Umrah Gratis Program Jospol. Prosesnya pun datang begitu tiba-tiba.
Awalnya ia hanya mendengar kabar pendataan marbut dan tokoh masjid. Beberapa nama senior, termasuk ustaz yang ia hormati, masuk sebagai kandidat.
“Tidak disangka-sangka,” ujar Zikri saat ditemui usai ibadah.
“Padahal banyak yang lebih tua, seperti Ustaz Ghazali. Beliau sebenarnya juga didaftarkan, tapi malah merekomendasikan saya. Alhamdulillah saya yang berangkat,” lanjutnya.
Dukungan dari jamaah pun datang penuh keikhlasan dan itu membuat Zikri semakin bersyukur.
Perjalanan Pertama yang Menggetarkan
Meski pernah naik pesawat sebelumnya, Zikri mengaku perjalanan umrah terasa sangat berbeda. Semua terasa menggetarkan, mulai dari keberangkatan hingga tiba di Makkah.
“Suasananya, cuacanya, Masya Allah beda sekali,” katanya tersenyum.
Ia berangkat saat cuaca Arab Saudi sedang panas-panasnya. Namun rasa capek terbayar ketika melihat ribuan jamaah dari seluruh dunia memenuhi masjid untuk salat.
“Masya Allah, ribuan orang. Beda sekali rasanya dengan di sini,” tuturnya kagum.
Komunikasi juga menjadi tantangan kecil. Zikri bercerita bagaimana dirinya harus berusaha memahami bahasa Arab sehari-hari di sekitar Masjidil Haram.
“Bahasa Arabnya agak bingung juga. Tapi pengalaman luar biasa,” ujarnya sambil tertawa.
Perjalanan Zikri ke Tanah Suci sepenuhnya ditanggung Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Program Jospol.
“Keberangkatan dan paspor ditanggung Pemprov. Hotel, makan, semua lengkap,” jelasnya.
Ia hanya mengeluarkan sedikit biaya untuk keperluan pribadi. Baginya, kesempatan ini bukan sekadar bantuan biaya, tetapi rezeki besar yang mengubah hidupnya.
Dari Al-Husna ke Masjidil Haram: Pengalaman Spiritual yang Berbeda
Sebagai marbut, Zikri terbiasa menghabiskan sebagian besar waktunya di Masjid Al-Husna.
Namun ia mengaku suasana ibadah di Tanah Suci memberikan pengalaman rohani yang sulit digambarkan.
“Di sana suasananya Masya Allah, luar biasa. Beribadah bersama orang dari seluruh dunia. Itu pengalaman yang belum pernah kami jumpai,” ucapnya.
Tidak ada satu pun momen yang ia keluhkan.
“Alhamdulillah, semuanya baik,” katanya.
Zikri menyampaikan rasa syukur dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji.
“Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih banyak kepada Gubernur dan Pemprov Kaltim yang sudah menjalankan program umrah gratis ini. Semoga segala usahanya diberikan kemudahan dan terus berjalan.”
Ia juga berharap rekan-rekannya sesama marbut dan relawan masjid bisa merasakan kesempatan yang sama.
“Mudah-mudahan teman-teman yang belum merasakan bisa ikut merasakan program ini,” katanya.
Ditanya apakah ia ingin kembali ke Tanah Suci, Zikri tersenyum kecil.
“Pengen. Insya Allah.”
Bagi Muhammad Zikri, perjalanan umrah bukan hanya perjalanan rohani. Ini adalah bukti bahwa pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas suatu hari akan berbuah manis.
Dari seorang perantau sederhana yang menjaga masjid di Samarinda, ia kini menjadi tamu Allah berkat program yang membuka jalan baru bagi banyak orang.
“Semoga program ini tetap ada dan lebih banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya. Amin,” tutupnya penuh harap. (Adv Diskominfo Kaltim)
Editor: Nur Alim
