Samarinda, infosatu.co – Jauh sebelum ia berjalan memasuki gerbang kampus Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda sebagai mahasiswa, Mahmud Najmi pernah menganggap bahwa pendidikan tinggi hanyalah mimpi panjang yang harus ia simpan rapat-rapat.
Pemuda kelahiran 28 Januari 2006 asal Berau ini tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Keinginan merantau untuk kuliah ke Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) ia pendam bertahun-tahun, bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena ia tahu betul keluarga tidak sanggup menanggung biaya hidup dan kuliah di kota besar.
“Awalnya saya hampir batal berkuliah karena keterbatasan ekonomi keluarga,” katanya, Minggu, 16 November 2025,
Jarak yang Jauh, Beban Biaya yang Besar
Bagi banyak anak muda di Berau, Samarinda adalah kota impian yang menyimpan peluang. Namun jarak ratusan kilometer dan biaya pendidikan kerap menjadi penghalang.
Bayangkan saja, jika kita ambil akses darat, perjalanan sejauh 573 Km itu, waktu tempuhnya bisa mencapai 15 jam.
Bagi Mahmud, angka Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp4 juta per semester terasa seperti tembok besar yang sulit ditembus.
Jika dihitung hingga delapan semester, totalnya mencapai puluhan juta rupiah jumlah yang bagi keluarganya tidak mungkin dipenuhi.
“Jumlah UKT saya awalnya 4 juta, jumlah yang sangat besar bagi saya dan keluarga,” ujarnya.
Karena itu, keluarganya sempat menyarankan ia kuliah di daerah saja, atau bahkan menunda niat kuliah sambil bekerja dulu.
Titik Balik: Sekolah Memberi Kabar
Perubahan besar datang tanpa diduga. Suatu hari, gurunya di sekolah menyampaikan informasi tentang adanya Program Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bantuan UKT penuh bagi mahasiswa.
Bagi sebagian siswa lain, mungkin itu hanya informasi biasa. Tetapi bagi Mahmud, kabar itu seperti pintu yang tiba-tiba terbuka.
“Awal saya tahu Gratispol itu dari sekolah,” ungkapnya.
Ia memberanikan diri mendaftar, mengisi formulir, melengkapi berkas, dan berharap. Prosesnya ia sebut tidak rumit, bahkan jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan sebelumnya.
“Menurut saya proses Program Gratispol ini sangat mudah. Tinggal fotokopi, lengkapi berkas, tidak menambah banyak biaya,” jelasnya.
Tak lama kemudian, Mahmud menerima kabar yang mengubah hidupnya. Ia diterima sebagai penerima manfaat Gratispol.
Mimpi yang Kembali Menyala
Dengan UKT yang sepenuhnya ditanggung pemerintah, Mahmud akhirnya berangkat ke Samarinda. Ia merantau, menetap, dan memulai perjalanan baru sebagai mahasiswa semester 1 di UINSI Samarinda pada program studi hukum tata negara.
“Saya merasa terbantu sekali dengan adanya Program Gratispol ini. Saya bisa berkuliah di Samarinda, tempat yang sudah saya inginkan dari dulu,” tuturnya.
Kini, setiap hari ia menjalani rutinitas kampus dengan rasa syukur yang besar. Tak ada lagi malam-malam penuh kekhawatiran soal biaya kuliah. Tak ada lagi perhitungan ulang apakah ia harus berhenti atau melanjutkan.
Melihat Masa Depan dengan Cara yang Berbeda
Hilangnya beban finansial membuat Mahmud mampu melihat pendidikan bukan sekadar kewajiban, tetapi masa depan. Ia mulai menyusun rencana, memikirkan kontribusi apa yang bisa ia lakukan kelak untuk Kalimantan Timur.
Ia ingin bekerja di bidang yang dapat membantu mahasiswa kurang mampu mereka yang kisahnya mungkin mirip dengannya bertahun-tahun lalu.
“Saya ingin suatu saat bisa membantu daerah, terutama dari sisi pendidikan,” ucapnya.
Terima Kasih dari Seorang Anak Berau
Di akhir ceritanya, Mahmud menyampaikan pesan sederhana tetapi penuh makna bagi pemerintah daerah yang menghadirkan program Gratispol.
“Teruntuk Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur, saya berterima kasih sebesar-besarnya atas Program Gratispol ini. Sangat membantu kami, terutama teman-teman yang kesusahan,” ujarnya.
“Terima kasih, Pak.”
Mahmud Najmi adalah satu dari ribuan mahasiswa di Kalimantan Timur yang hidupnya berubah oleh sebuah kebijakan yang meniadakan hambatan biaya pendidikan. Dari seorang anak yang hampir menyerah, ia kini menjadi pemuda Berau yang kembali berani bermimpi.
Gratispol baginya bukan hanya program, melainkan kesempatan kedua. Sebuah ruang baru untuk belajar, tumbuh, dan kelak memberi kembali kepada tanah kelahirannya. (Adv Kominfo Kaltim)
Editor: Nur Alim
