infosatu.co
Samarinda

5 Ramadan Adi Riski di Perantauan, Menguat Bersama Waktu

Teks: Jejak lima Ramadan wartawan MSI Group, Adi Riski Ramadhan di tanah rantau (Foto-Adi)

Samarinda, infosatu.co – Ramadan bukan lagi sekadar menjadi rutinitas tahunan bagi Adi Riski Ramadhan. Memasuki tahun kelima menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga, wartawan Media Sukri Indonesia (MSI) Group ini justru menemukan makna yang lebih luas tentang silaturahmi, adaptasi, dan proses pendewasaan dalam merantau.

Bagi Adi, makna Ramadan sebagai anak rantau pada dasarnya sama dengan umat Muslim lainnya, yakni memperbaiki kualitas ibadah, baik secara spiritual maupun sosial.

Namun, berada jauh dari keluarga memberikan pengalaman yang berbeda.

“Makna Ramadan sebagai anak rantau itu sebetulnya sama saja. Tentu sebagai umat Muslim kita wajib melaksanakan Ramadan, momen untuk memperbaiki kualitas segala ibadah, baik secara spiritual maupun sosial,” ujarnya, Kamis, 19 Februari 2026.

Ia menekankan pentingnya menjaga hubungan, baik kepada Tuhan maupun sesama manusia.

“Habluminallah dan habluminannas, ke Tuhan dan ke manusia. Di posisi rantau tentu berbeda. Kalau di rumah hanya keluarga dan masyarakat yang sudah kita kenal. Di rantau lingkungannya berbeda, dan itu jadi tantangan untuk memaknai Ramadan lebih luas,” katanya.

Kenangan paling kuat datang dari Tasikmalaya, tempat ia pertama kali merasakan Ramadan sebagai perantau.

Suasana kampung yang hangat membuatnya terkejut sekaligus terharu. Ia yang datang sebagai pendatang justru diperlakukan seperti keluarga sendiri.

“Waktu di Tasik, tahun pertama merantau, situasinya berbeda banget. Masyarakatnya sangat welcome. Kita diajak silaturahmi ke rumah-rumah. Bahkan seperti ‘dipaksa’ untuk datang dan makan bersama,” kenangnya.

Dari situ, ia memahami bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi tentang membuka pintu rumah dan hati bagi siapa saja.

“Mereka tidak pandang siapa, tidak tanya asal dari mana, tapi dirangkul semua. Itu yang membuat saya mendapat makna baru tentang Ramadan di perantauan,” tuturnya.

Kini, setelah hampir tiga Ramadan di Tasikmalaya dan dua Ramadan di Samarinda, rasa rindu tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan. Terutama saat sahur, ketika kenangan masa kecil datang begitu saja.

“Yang biasanya sahur bangun ketemu ibu, adik, masakan orang tua sudah tersedia. Kita tinggal makan. Di perantauan hal-hal itu tidak ditemui lagi,” katanya.

Perubahan suasana itu sempat membuatnya sedih di tahun-tahun awal. Namun waktu mengajarkannya beradaptasi.

“Sekarang, sudah lebih bisa menstabilkan diri. Rasa kangen tetap ada, tapi lebih bisa teratasi,” ujarnya.

Pada sahur pertama Ramadan tahun ini, ia menikmati hidangan ikan dan sayur sop yang disiapkan oleh Ibu Hidayah, Aminah dan Ira di rumah tempat ia tinggal.

Meski bukan keluarga kandung, suasana kebersamaan tetap ia rasakan.

Di sisi lain, profesinya sebagai wartawan membuat momen berbuka puasa pada Ramadan sebelumnya jarang ia habiskan di rumah. Adi mengaku lebih sering berbuka di lokasi liputan.

“Hampir 29 hari Ramadan saya buka di luar, di tempat liputan. Hanya satu kali di rumah atau kantor,” ungkapnya.

Untuk hari pertama berpuasa kali ini, ia berencana mengikuti buka puasa bersama di Masjid Al-Fatihah Universitas Mulawarman bersama teman-temannya.

Selain menghemat biaya, menurutnya momen tersebut juga menjadi ajang silaturahmi.

Di tengah mobilitas yang padat, Adi tetap menyimpan target pribadi. Ia ingin khatam Al-Qur’an, menjaga kesehatan, dan memaksimalkan puasa bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin.

“Resolusinya cenderung sama, khatam Al-Qur’an, puasa dengan maksimal. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga puasa dari berpikir buruk, berbicara kotor, menjaga penglihatan dan pendengaran,” ujarnya.

Baginya, puasa paling sulit justru menahan diri dari hal-hal yang tak terlihat: pikiran negatif, ucapan yang melukai, dan sikap yang tak disadari menyakiti orang lain.

Jarak pun tak pernah benar-benar memutus kedekatan. Hampir setiap hari ia menyempatkan diri menghubungi keluarga. Kadang hanya untuk menanyakan menu sahur, kadang sekadar berbagi foto hidangan berbuka.

“Hampir setiap hari komunikasi. Kalau ada momen bagus, buka puasa ramai-ramai atau makanan enak, pasti saya kabari. Kadang iseng bangunin sahur, tanya sudah sahur belum,” katanya.

Di akhir, Adi menyampaikan pesan haru untuk keluarganya.

Ia mengungkapkan rasa terima kasih atas izin dan doa yang diberikan selama dirinya merantau.

“Terima kasih sudah memberikan ridha, izin dan doanya untuk anaknya jauh dari rumah. Tentunya Itu keputusan berat untuk orang tua. Semoga pengorbanan waktu dan pengorbanan kedekatan ini berbuah hasil,” ucapnya.

Harapannya pun tak muluk. Ia hanya ingin suatu saat kembali duduk di meja yang sama bersama keluarga.

“Semoga kita bisa sahur dan buka di meja yang sama, salat tarawih bareng, dan mengobrol di malam hari. Semoga kita semua sehat dan masih diberi kesempatan bertemu Ramadan dan lebaran berikutnya,” ungkapnya.

Lima Ramadan di perantauan menjadi perjalanan yang tak hanya menguatkan langkah Adi, tetapi juga meneguhkan hatinya.

Di antara rindu yang tak pernah benar-benar hilang, tersimpan keyakinan bahwa setiap jarak akan menemukan waktunya untuk dipertemukan kembali.

Related posts

Pasar Ramadan Bung Tomo Dipadati Warga di Hari Pertama Puasa, Takjil Laris Manis

Andika

Jemaah Puji Renovasi Masjid Raya Darussalam, Ajak Masyarakat Jaga Fasilitas

Firda

Sudah 3 Generasi Bertahan, Kue Talam Hj Anna Diburu Warga Saat Ramadan

Firda

Leave a Comment

You cannot copy content of this page