infosatu.co
DISKOMINFO BONTANG

25 Kasus Kemunculan Buaya di Bontang Selama 2025, Diusulkan Pengadaan Senapan Bius

Teks: Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat diwawancarai awak media. (Infosatu.co/Adi)

Bontang, infosatu.co – Ancaman kemunculan buaya di wilayah pesisir Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 25 kasus kemunculan buaya di sejumlah kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengatakan tingginya angka kemunculan buaya tersebut menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah penanganan yang lebih serius.

“Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Beberapa waktu lalu kami sudah rapat dengan dinas terkait untuk penanganannya. Buaya sudah ada di mana-mana, baik di darat maupun di laut. Sebisa mungkin kita harus selesaikan,” ujarnya, Sabtu, 7 Maret 2026.

Perhatian terhadap persoalan ini semakin menguat setelah insiden penyerangan terhadap seorang anak berusia 12 tahun saat berenang di kawasan rawa di Kelurahan Loktuan beberapa waktu lalu.

Peristiwa tersebut menambah kekhawatiran masyarakat terhadap keberadaan predator tersebut di sekitar permukiman.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemkot Bontang menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah perangkat daerah untuk membahas langkah penanganan lebih lanjut, terutama di wilayah yang dinilai rawan kemunculan buaya seperti Loktuan dan Guntung.

Dalam pembahasan rapat tersebut, mencuat usulan pengadaan alat khusus berupa senapan bius untuk membantu proses evakuasi buaya di lapangan. Usulan ini dinilai penting karena selama ini proses penangkapan kerap mengalami kendala.

Menurut Neni, petugas sering kali kesulitan melakukan penangkapan ketika buaya berada di perairan terbuka.

“Selama ini penangkapan biasanya dilakukan saat air surut atau ketika buaya berada di lokasi sempit. Kalau di air tentu sangat berisiko untuk didekati,” katanya.

Ia menambahkan, meskipun beberapa kali penanganan dilakukan dengan bantuan pawang, proses evakuasi tetap tidak mudah karena buaya sering kembali ke perairan sebelum berhasil diamankan.

“Sebagian memang berhasil ditangkap, tetapi banyak juga yang lolos karena langsung masuk ke air,” ujarnya.

Berdasarkan catatan pemerintah daerah, dari 25 laporan kemunculan buaya sepanjang 2025, sebanyak 10 ekor berhasil dievakuasi, sementara sebagian lainnya kembali ke habitatnya di perairan.

Beberapa kawasan yang kerap dilaporkan menjadi lokasi kemunculan buaya di antaranya Loktuan, Selambai, dan Tanjung Limau.

Neni juga menjelaskan bahwa populasi buaya di wilayah pesisir berpotensi terus meningkat. Hal ini dipicu kemampuan reproduksi buaya yang cukup tinggi.

Menurutnya, satu induk buaya dapat menghasilkan sekitar 30 butir telur dalam sekali masa berkembang biak. Jika sebagian besar telur tersebut menetas dan bertahan hidup, jumlah populasi buaya di suatu wilayah dapat meningkat dalam waktu relatif singkat.

“Kalau orang bilang di Loktuan ada 50 ekor, menurut saya itu masih kecil. Karena satu induk buaya saja bisa bertelur sekitar 30 butir,” jelasnya.

Selain faktor reproduksi, kemunculan buaya di sekitar permukiman juga diduga dipicu oleh ketersediaan sumber makanan di perairan, salah satunya limbah ikan yang dibuang ke laut.

“Buaya memiliki penciuman yang sangat kuat. Kalau ada limbah ikan yang dibuang ke laut, tentu mereka akan datang,” katanya.

Karena itu, Pemkot Bontang akan terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi terbaik dalam penanganan konflik antara manusia dan satwa liar tersebut.

“Kita tidak bisa membiarkan kondisi ini terus terjadi. Yang terpenting adalah keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas,” pungkasnya. (Adv)

Related posts

Buka Puasa Bersama KKSS, Neni Tekankan Pentingnya Mendidik Anak Cinta Al-Qur’an

Rizki

Pemkot Bontang Perkuat Bantuan Sosial Lewat Program BUNDA SANTUN

Rizki

Masjid dan Musala Diminta Ajukan Hibah Lewat SIPD, Neni: Tidak Lagi Proposal Manual

Rizki

You cannot copy content of this page