infosatu.co
BONTANG

2.700 Remaja Hidup dengan HIV, Ketua Komite I DPD RI Soroti Darurat Sosial Generasi Muda

Teks: Ketua Komite I DPD RI Andi Sofyan Hasdam saat memberikan pemaparan di hadapan Duta GenRe Kota Bontang, Selasa, 3/3/2026. (Infosatu.co/Adi)

Bontang, infosatu.co – Data mengejutkan dipaparkan Ketua Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Andi Sofyan Hasdam, terkait kondisi sosial generasi muda Indonesia.

Diungkapkan pada tahun 2025, tercatat sekitar 2.700 remaja Indonesia usia 15-9 tahun hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel darah putih (sel CD4), yang berfungsi melawan infeksi.

“Ini bukan angka kecil. Ini masa depan bangsa yang sedang terancam,” tegasnya di hadapan 33 Duta Generasi Perubahan (GenRe) Kota Bontang, Selasa, 3 Maret 2026.

Data tersebut selaras dengan laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per Maret tahun 2025 yang menunjukkan sekitar 2.700 remaja usia 15-19 tahun di Indonesia hidup dengan HIV.

Kondisi ini didorong oleh minimnya edukasi kesehatan reproduksi serta meningkatnya perilaku berisiko di kalangan remaja.

Secara nasional, Kemenkes memperkirakan sekitar 564.000 orang hidup dengan HIV (ODHIV) di Indonesia pada tahun 2025, dengan kasus baru yang cenderung meningkat pada kelompok usia produktif.

Andi Sofyan menilai situasi tersebut harus menjadi alarm serius bagi semua pihak, karena menyangkut kualitas sumber daya manusia ke depan.

Dalam paparannya, ia menyoroti persoalan sosial generasi muda semakin kompleks dan saling berkaitan.

Seks bebas, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, penyalahgunaan narkotika, alkoholisme hingga tingginya angka perokok remaja menjadi rangkaian persoalan yang dapat merusak masa depan bangsa.

Menurutnya, seks bebas menjadi salah satu pintu masuk berbagai risiko kesehatan dan sosial.

Data yang dipaparkan menunjukkan sekitar 16 persen remaja perempuan usia 15-19 tahun mengalami kehamilan tidak diinginkan, dan sekitar 23 persen di antaranya pernah melakukan aborsi.

Ia mengingatkan dampak sosial dan psikologis sering kali lebih berat ditanggung oleh perempuan.

“Kalau terjadi kehamilan, sering kali laki-lakinya lari. Yang menanggung beban adalah perempuan,” ujarnya.

Selain isu kesehatan reproduksi, penyalahgunaan narkotika juga menjadi perhatian serius.

Ia menyebut Kalimantan Timur sebagai wilayah yang rawan karena terbuka melalui jalur darat, laut dan udara.

“Kaltim ini bisa dimasuki lewat pesawat, kapal laut dan jalan darat. Kalau tidak hati-hati, generasi muda kita bisa rusak,” katanya.

Rokok, kata Andi Sofyan, kerap menjadi pintu awal perilaku adiktif lainnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan, prevalensi perokok remaja usia 13-7 tahun mencapai 19,2 persen, salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.

Bahkan sekitar 52-55 persen perokok baru di Indonesia berasal dari kelompok usia 15-19 tahun.

“Rokok itu satu langkah menuju Narkoba (Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Adiktif lainnya). Jangan coba-coba,” pesannya.

Menurutnya, jika berbagai persoalan sosial tersebut tidak dikendalikan, generasi muda akan kehilangan daya saing dan sulit menjadi pemimpin masa depan yang berkualitas.

“Kalau generasi rusak oleh Narkoba, seks bebas dan alkoholisme, bagaimana kita bicara masa depan Indonesia?” ujarnya.

Ia pun mengajak orang tua, sekolah, pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk memperkuat edukasi, pembinaan karakter serta pengawasan terhadap generasi muda.

“Remaja adalah pemilik masa depan. Jangan biarkan masa depan itu hancur oleh pilihan yang salah hari ini,” tutupnya.

Related posts

Andi Sofyan Dorong Remaja Kawal Pembangunan Agar Tak Warisi Krisis Lingkungan

Rizki

Andi Faiz: KKSS Harus Memberikan Kontribusi Poistif Bagi Masyarakat Bontang

Dewi

Pemuda Pancasila Bontang Buka Posko Donasi Korban Banjir Bandang Aceh-Sumatra

Rizki

You cannot copy content of this page